Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
By : Racka maulana

Subuh masih mentah. Aku rebah setelah terjaga. Dalam kereban itulah aku bermimpi, kau sudah pulang ke kotaku. Di suatu tempat di tanah lapang yang terhampar luas, kau menegun. Rambut lurusmu lepas terurai, paras wajahmu anggun dan memikat. Dari jauh aku memanggil-manggil namamu.
” Surti! Surti!” kau tersentak,berdiri, dan bergegas, berlari ke arahku. Akupun mempercepat langkah, berlari juga. Kita saling merangkul, memeluk ‘kuat-kuat’. Kita berciuman. Berciuman ‘sungguhan’ rasanya. Lalu, kau mengajakku ke tempat lain, ke sebuah rumah kayu bertingkat dua. Kita berhenti di pelataran lantai dasarnya. Banyak orang berseliweran melintasi ruas jalan di depan rumah itu. Kita saling merangkul, saling memeluk, saling berciuman lagi.
” Banyak orang di sini, Sur!” bisikku. Kau menjawab, ” Nggak apa-apa, aku sudah tak peduli dengan mereka.”
Kau berisyarat agar aku menunggu sejenak. ” Tidak lama!” ujarmu lembut. Aku mengangguk. Sepertinya kau hendak mengambil sesuatu di lantai atas rumah itu. Lama aku menunggu, kau tak datang-datang juga. Aku risih, resah menyerangku. Dalam kegundahan menunggumu aku terbangun. Aku linglung, dan terkepung tanya. ” Surti ke mana?”. Bersusah payah aku hendak tertidur kembali. Berharap mimpiku bersambung dan menemukan Surtiku kembali. Ah…sudah tak mungkin.
Aku tidak sedang mengarang, tapi sekedar menuliskan catatan bingungku tantang dirimu yang hilang dalam mimpiku.
Di mimpi saja aku tak mau kehilangan dirimu, apalagi …
” Oh, Surti… Ada apa denganku?”.
Sejak pertemuan kita yang tanpa diduga-duga, namun kemudian sebagai perkenalan yang menggetarkan. Kusembunyikan tanya di batinku yang mulai terusik.
Kutulis sepucuk surat yang isinya tak lain adalah sedikit ungkapan tentang apa yang aku rasakan saat ini, karena tiba-tiba kau pamit akan meninggalkan kotaku. Pulang ke ranahmu, nun jauh di sana. Sebuah kota pelajar terkanal di jawa timur, Malang. Aku tak berani mengungkapkan pertanyaan itu di dalam paragraf-paragrafku. Baru dua pertiga bagian aku menulisnya, ketidakberanian yang lain menyerangku, tidak berani mengirimkannya padamu.
Genap satu bulan aku lalui hari-hariku sendirian. Sepertinya aku sedikit tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau tak lagi ada di sampingku. Tempat ini kian terasa asing bagiku, meskipun di sini juga aku dilahirkan.
Kumusnahkan hari-hari dengan menemani Emak, menata dagangan di atas rak-rak kayu di warung kecilnya. Melayani pembeli saat Emak tidak ada, sambil mendengarkan musik klasik dengan harapan bisa sedikit menghilangkan gundah di batin ini. Pada saat yang sama,ternyata aku tak mampu berdamai dengan khayalku tentangmu. Layar imajinasiku mengembang jauh ke kotamu. Kota yang bersih, sejuk, damai, indah dan ramai. Ah…mungkinkah kau juga sedang mengingatku sekarang? Apakah kau juga merasakan kesepian yang menderu dentam seperti yang kurasakan? Apa kau juga mempunyai mimpi seperti mimpi-mimpiku? Ah….
Rumah ini terasa sunyi, tak riuh dengan deru bising mesin-mesin kendaraan seperti di kotamu. Tak ada siapa-siapa di rumah ini selain aku dan Emak yang masih bersimpuh di atas sajadah shalatnya. Jemari tangannya memutar-mutar butiran-butiran tasbih berwarna ungu muda. Ayah tak bisa berlama-lama menemani Emak. Sejak empat tahun lalu, setiap malam ia harus setia merawat nenek yang sakit-sakitan. Menjaga dan menemani tidurnya. Delapan anak telah terpacak dari rahim nenek, termasuk ayah. Tak satupun dari anak-anak nenek yang memiliki kerinduan pulang menjenguknya, kecuali ayah. Usianya sudah kepala delapan. Ayah rela “diperempuankan”, mencuci pakaiannya, menimba air mandinya, menyiapkan makanannya, melayani segala tetek bengek perempuan setua nenek ini. Hidup memang aneh!

* * * * *
Oh…Surti…tanpa kusadari haripun sudah mulai berganti. Senja telah beranjak ke layar langit. Cakrawala berubah warna karena mentari yang pulang cuma meninggalkan guratan-guratan cahaya jingga di angkasa. Angin berpindah arah. Derajat bumi berangsur-angsur lembab. Kelelawar sambar-menyambar dengan cericit riuh, menyambut langit yang berangkat gelap.
Tapi tahukah kau Sur…? Bayangan wajahmu telah lebih dulu tergambar dalam benakku. Saat itulah aku ingin merangkumnya menjadi sebuah puisi cinta untukmu. Menjadi bangunan kalimat cinta yang menggelora. Menjadi telaga yang kerap mempertemukan kita dalam mimpi. Menjadi cerita yan akan setia mengingatkan kita tentang romantika, perjumpaan pertama, cemburu, pertengkaran, cita-cita, atau apa saja yang kadang-kadang membuat kita enggan tuk melupakannya.
Sebagaimana gerimis di kota santri yang masih nyata melekat dalam ingatan. Sebatang beringin tua di depan kampus sedikit menyelmatkan kita dari guyurannya. Bau wangi aspal memberikan makna yang lain. Orang-orang mempercepat lajunya. Sepintas kota Kajen kelihatan makin sesak saja.
Dan manakala gerimis menderas, orang-orang berebut peneduhan, namun tetap saja beberapa nekad basah di jalan. Bus kota masih melaju, becak, andong, bertahan di jalan. Pengemudinya berlindung di dalamnya. Kilat mejilat-jilat. Sebentar-sebentar langit bercahaya dan halilintar berulang menggelegar di angkasa.
Ah…beringin kita kian sesak ternyata.kemudian angin basah yang merayap, membuatmu makin erat di pelukanku.
” Jangan tinggalkan aku sendirian!” ucapmu dengan desah yang masih kuhafal sampai sekarang.
” Tidak akan Sur,..tidak akan!” jawabku dengan pasti.
Hujan belum reda. Sayup-sayup terdengar petikan siter sepasang pengamen tua yang duduk di sebrang kita. Nadanya meluncur dengan gelisah, seperti gelisah kita yang terperangkap dalam kebekuan. Jemari kering lelaki tua itu menari di atas dawai mengiringi istrinya yang berlanggam jawa. Hmm…langgam “Tali Katresnan”. Sebuah lagu jawa yang sering aku dengar dinyanyikan orang-orang tua sebelah rumahku ketika akan menina bobokan anak-anaknya. Beberapa butir air terlihat menggenang di lekuk wajah hitam mereka. Ya…wajah yang menggambarkan pemiliknya begitu teguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Kalau kuingat lagu itu,..sepertinya ia bercerita pada kita tentang cinta. Yah…cinta! Kita yang seakan tak pernah menuntut apa-apa. Dan beringin itu makin sesak saja. Sepasang pengamen tua itupun masih setia mengembangkan cintanya yang purba. Sungguh kenangan yang tak pernah kulupa.
Kemarin ketika aku menggebu ingin menulis sebuah puisi buatmu, aku merima sebuah surat bersampul ungu.
” Aku akan datang ke kotamu. Nantikan hadirku di sisimu. Aku merindukanmu!”. begitu tulismu dalam surat itu.
Rindu ? Oh…Surti, andaikan kau tahu, betapa rasa rindu itupun kerap menghajarku. Mimpi-mimpi yang datang juga kerap mengerikan. Tetapi aku tak pernah berusaha untuk menerjemahkannya. Bukannya aku takut! Melainkan biar isyarat itu datang memberikan tanda, sebab rindu sudah demikian tak terkira.
Malam demi malam selalu kulewati dengan keterjagaan yang panjang.
Lantas potretmu yang terpampang di dinding kamar, senantiasa kuajak berbincang. Ya…semoga rindu ini bisa sedikit kutahan.
Malam ini seperti malam-malam biasanya. Kecuali serangga yang bernyayi. Suara detak jam sama seperti degup jantungku. Sebuah lampu 15 watt memperpanjang bayanganku yang terpaut merindukanmu.
Dari jendela kamar bisa kusaksikan rembulan yang mengapung begitu mengesankan, sabit!
Seekor kelelawar tampak melintas dalam garis cahayanya yang tidak begitu terang. Ah… benar-benar aku ingin menulis sebuah puisi malam ini. Mungkin bisa kupersembahkan saat menyambut kehadiranmu besok.
Lalu aku mulai menghayal. Kau datang ke kotaku. Kau akan mengajakku ke tanah impianmu. Ah…Betapa menyenangkan bergandengan menyusuri taman kota Lasem bersamamu seperti dulu. Kemudian kupetik mawar jingga untuk kuselipkan di rambutmu.
Hei…pantai kartini juga pasti telah menanti kita. Di sana jika malam, jalan mulai lengang, kau paling betah berlama-lama duduk di taman sembari menikmati teh jahe yang hangat.
Alangkah tak sabar aku mengharapkan kita bisa lagi bergandengan menikmati senja taman sari atau menyaksikan ombak pantai yang selalu datang bergempuran bagai batinku yang dihajar rindu hingga lebam.
Detik waktu terus berputar.
Batu-batu menggigil kedinginan.
Bunga-bunga langit mulai mekar.
Dan bulan yang mengapung ada gambarmu.
Mengambang diam-diam.

Selamat datang Surti…!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: